AsMEN TV, Jakarta – Presiden Soekarno merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Bersama para pejuang lainnya, Bung Karno berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan dan membangun fondasi negara Republik Indonesia.
Namun, perjalanan politik Indonesia pada masa kepemimpinan Soekarno tidak selalu berlangsung mulus. Terutama pada era Demokrasi Terpimpin, ruang politik bagi kelompok yang berseberangan dengan pemerintah semakin menyempit.
Sejumlah tokoh nasional bahkan pernah ditangkap dan berstatus sebagai tahanan politik. Catatan sejarah menunjukkan, latar belakang penahanan mereka tidak semuanya sama. Ada yang dituduh terlibat dalam gerakan PRRI-Permesta, sementara sejumlah tokoh lainnya ditangkap dalam kasus yang oleh pemerintah saat itu dikaitkan dengan apa yang disebut “Bali Connection”.
Lantas, siapa saja tokoh nasional yang pernah ditahan pada era Soekarno?
1. Sutan Sjahrir.
Sutan Sjahrir merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan, Perdana Menteri pertama Indonesia, sekaligus pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pada 1962, Sjahrir dikenai status tahanan politik oleh pemerintahan Soekarno. Ia bersama sejumlah tokoh lainnya dituduh terlibat dalam “Bali Connection”, yang oleh pemerintah dikaitkan dengan rencana mencelakai Presiden Soekarno.
Penahanan tersebut berlangsung hingga kondisi kesehatan Sjahrir memburuk. Pada 1965, dengan izin Soekarno, Sjahrir diperbolehkan menjalani pengobatan di Zurich, Swiss.
2. Sultan Hamid II.
Sultan Hamid II, tokoh dari Kalimantan Barat yang dikenal sebagai perancang lambang negara Garuda Pancasila, juga termasuk tokoh yang ditangkap pada Januari 1962. Ia ditahan bersama Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, Soebadio Sastrosatomo dan Anak Agung Gde Agung dalam perkara yang oleh pemerintah dikaitkan dengan rencana pembunuhan Presiden Soekarno.
3. Anak Agung Gde Agung.
Anak Agung Gde Agung merupakan tokoh politik dan diplomat Indonesia. Ia juga pernah menjabat Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur dan kemudian Menteri Luar Negeri. Pada 16 Januari 1962, ia ditangkap bersama sejumlah tokoh lainnya dalam perkara “Bali Connection”. Mereka dituduh terlibat dalam komplotan yang merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno.
4. Mohammad Roem.
Mohammad Roem adalah salah satu tokoh penting dalam diplomasi Indonesia. Namanya sangat dikenal dalam sejarah perjuangan diplomatik, antara lain melalui Perundingan Roem-Roijen. Namun, pada Januari 1962, Roem ditangkap dan ditahan bersama sejumlah tokoh nasional lainnya dalam kasus “Bali Connection”.
Dalam catatan sejarah,
5. Prawoto Mangkusasmito.
Prawoto Mangkusasmito merupakan salah satu tokoh penting Partai Masyumi dan pernah menjadi Wakil Perdana Menteri. Ia termasuk dalam kelompok tokoh yang ditangkap pada Januari 1962 dalam perkara “Bali Connection”. Prawoto kemudian menjalani masa penahanan bersama beberapa tokoh lainnya di Rumah Tahanan Militer Madiun.
6. Soebadio Sastrosatomo.
Soebadio Sastrosatomo merupakan salah satu tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI). Namanya juga tercatat dalam kelompok tokoh yang ditangkap pada Januari 1962 dalam kasus “Bali Connection”. Penangkapan tersebut menunjukkan semakin kerasnya pertarungan politik pada awal dekade 1960-an.
7. Mohammad Natsir.
Mohammad Natsir merupakan salah satu tokoh besar Masyumi dan pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia. Berbeda dengan kelompok “Bali Connection”, penahanan Natsir berkaitan dengan keterlibatannya dalam PRRI. Natsir bersama sejumlah tokoh Masyumi lainnya, termasuk Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap, bergabung dengan gerakan yang muncul akibat ketegangan antara pemerintah pusat dan sejumlah daerah.
8. Sjafruddin Prawiranegara.
Sjafruddin Prawiranegara merupakan tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Ia pernah memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Soekarno dan Mohammad Hatta ditawan Belanda pada 1948. Namun, pada era Demokrasi Terpimpin, Sjafruddin kemudian bergabung dengan PRRI dan menjadi salah satu pemimpinnya. Akibat keterlibatannya dalam PRRI, Sjafruddin ditahan sejak 1962 hingga 1966. Setelah perubahan politik 1966, ia akhirnya kembali memperoleh kebebasan. Menariknya, Sjafruddin kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2011, menunjukkan bahwa penilaian negara terhadap tokoh dan episode sejarah dapat berubah seiring waktu.
9. Burhanuddin Harahap.
Burhanuddin Harahap adalah tokoh Masyumi yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia. Ia juga terlibat dalam PRRI dan kemudian menjadi salah satu tahanan politik pemerintah Soekarno. Catatan sejarah menyebut Burhanuddin ditempatkan bersama sejumlah tokoh PRRI lainnya di berbagai rumah tahanan militer.
10. Mochtar Lubis.
Mochtar Lubis merupakan wartawan dan sastrawan sekaligus pemimpin redaksi harian Indonesia Raya. Ia mengalami penahanan pada masa Demokrasi Terpimpin. Menurut catatan Historia, Mochtar Lubis dipenjara atas tuduhan bersekongkol dengan Zulkifli Lubis terkait kekacauan politik di Sumatra. Salah satu aspek yang menarik dari kasus ini adalah, menurut sumber tersebut, selama sekitar sepuluh tahun perkara Mochtar Lubis tidak pernah disidangkan atau diadili. (Imam. S)
