Bau cairan kimia kamar gelap dan debu kayu tercium samar di ruangan berukuran tiga kali empat meter itu. Di bawah sorotan lampu meja yang remang, jemari keriput Pak Suryo (62) dengan telaten membersihkan lensa kamera tua buatan tahun 1980-an. Di luar, riuh gelak tawa belasan anak panti asuhan sudah terdengar menanti kelas sore dimulai.
Bagi Pak Suryo, bengkel kecilnya di kawasan Tangerang Selatan ini bukan sekadar tempat mengumpulkan kenangan masa lalu. Sejak lima tahun terakhir, mantan fotografer komersial ini mengubah ruang kerjanya menjadi kelas fotografi gratis bagi anak-anak yatim dan kurang mampu.
“Cahaya itu tidak pernah memilih siapa yang ditangkapnya,” ujar Suryo sambil tersenyum tipis. “Saya ingin anak-anak ini belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda—bahwa dari hal yang paling sederhana, mereka bisa menciptakan sesuatu yang indah dan berharga.”
Modal yang dimilikinya jauh dari kata melimpah. Setiap bulan, ia berburu kamera analog bekas yang rusak dari pasar loak, lalu memperbaikinya secara mandiri kompartemen demi kompartemen. Kamera-kamera “hasil rakitan ulang” itulah yang kemudian berpindah ke tangan anak-anak didiknya. Lewat bidikan lensa tersebut, para siswa diajarkan dasar-dasar pencahayaan, komposisi, hingga cara bercerita lewat gambar.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat saat kelas sore itu berakhir. Seorang anak tampak bangga memperlihatkan hasil jepretannya di layar monitor tua. Di sudut ruangan, Pak Suryo memperhatikan dari jauh dengan mata berbinar. Ia tahu, di balik setiap cetakan foto yang dihasilkan, ada benih kepercayaan diri baru yang sedang tumbuh di jiwa anak-anak tersebut.

