Tangerang Kota 18 Agustus 2026 dalam kesempatan acara pembinaan wartawan Asmen Jakbar ketua pembina menyampaikan;
“Jadilah Pemain, Bukan Sekadar Penonton”
Dalam kehidupan ini kita harus memahami bahwa keberhasilan tidak datang hanya karena kita melihat, tetapi karena kita mau bergerak dan menjadi pemain.
Orang yang benar-benar memahami makna salat yang khusyuk akan mengalami perubahan dalam kehidupannya. Salat bukan hanya rutinitas, tetapi harus mampu meningkatkan kualitas diri, menambah keimanan, memperbaiki akhlak, meningkatkan semangat bekerja, dan membawa seseorang menuju kesuksesan.
Kalau salat kita sudah khusyuk, apakah kehidupan kita sudah bertambah baik?
Kalau belum, berarti mungkin kita belum benar-benar memahami makna salat yang kita kerjakan.
Jangan sampai setiap hari kita hanya bertemu dengan persoalan yang sama.
Hari ini stres karena masalah ini.
Besok bertemu lagi dengan masalah yang sama.
Lusa kembali mengeluhkan persoalan yang sama.
Kalau hanya seperti itu, kita bukan pemain, tetapi hanya penonton.
Pemain dan Penonton
Penonton biasanya hanya melihat, berbicara, berkomentar dan terkadang membuat keributan.
Sementara pemain turun langsung ke lapangan.
Pemain bekerja,berjuang,
menghadapi tantangan, mencari solusi dan pemain bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya, karena itu, kita harus memilih:
“Apakah kita mau menjadi penonton atau menjadi pemain?”
Jumlah penonton memang selalu lebih banyak daripada pemain. Tetapi jangan sampai karena jumlahnya banyak, kita kemudian mengikuti semuanya.
Al-Qur’an memberikan peringatan agar manusia tidak sekadar mengikuti mayoritas tanpa mempertimbangkan kebenaran. Banyak bukan berarti selalu benar.
Maka ASMEN harus melahirkan pemain-pemain yang bekerja nyata, bukan hanya orang-orang yang pandai berbicara.
ASMEN Harus Menjadi Pemain
Kalau kita sudah menyatakan siap menjadi pemain, maka jangan hanya siap di dalam ruangan.
Turun ke lapangan!
Buktikan dengan program kerja sama dan karya nyata.
Dan buktikan bahwa ASMEN benar-benar hadir untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang merasa lebih hebat daripada pemain.
Karena orang yang berada di luar lapangan sering kali mudah memberikan penilaian. Tetapi pemainlah yang merasakan langsung bagaimana beratnya pertandingan.
Maka mari kita menjadi pemain yang baik, bertanggung jawab, dan membawa ASMEN menuju keberhasilan.
Target Legalitas ASMEN jakbar segera di jawab.
Ketua Pembina juga menegaskan pentingnya target dan kepastian waktu.
Kapan ASMEN akan dilegalitaskan di Jakarta Barat?
Jawabannya harus jelas.
Jangan sampai target hanya menjadi pembicaraan.
Karena kalau hanya berbicara tanpa realisasi, itu namanya “omon-omon.”
ASMEN tidak boleh berhenti pada omongan.
Target harus menjadi program.
Program harus menjadi tindakan.
Tindakan harus menghasilkan karya.
Dan karya harus memberikan manfaat.
Itulah karakter seorang pemain.
ASMEN Sebagai “Cover”
Kemudian muncul istilah cover
Kalau kita menggunakan handphone, kita memasang cover atau casing bukan karena handphone itu jelek.
Justru cover digunakan untuk melindungi sesuatu yang ada di dalamnya.
Cover melindungi handphone dari:
benturan,hujan atau percikan air, goresan, panas serta berbagai resiko lainnya.
Jadi, cover bukan sekadar hiasan.
Cover mempunyai fungsi sebagai pelindung dan penyelamat.
Dalam konteks ASMEN, maka konsep cover juga harus dimaknai sebagai sesuatu yang berada di garis depan untuk memberikan perlindungan, pendampingan, dan penguatan terhadap fungsi organisasi.
ASMEN sebagai wadah media yang bersinergi dengan pemerintah yang selalu menjaga dan mempublikasikan sesuai norma dan kode etik jurnalistik.
Dalam konteks yang disampaikan Ketua Pembina, yaitu;wartawan menjalankan tugas dan peran sesuai tugas dan kemampuan yang dimiliki.
Dengan demikian, ASMEN bukan hanya sebuah nama organisasi atau asistensi.
ASMEN harus mempunyai fungsi, program,
jaringan.
Dan yang paling penting mampu menjadi garda terdepan dalam tugasnya, profesional, dilaksanakasesuai visi dan misinya.
Dalam posisi tersebut, ASMEN dapat menjadi wadah untuk:
Media → Komunikasi → Informasi → Pendampingan → Pemberdayaan → Pengabdian kepada masyarakat.
Maka ASMEN harus mampu menjadi cover atau pelindung fungsi, bukan sekadar menjadi simbol organisasi.
Pesan Penutup Ketua Pembina
“Jangan menjadi penonton. Jadilah pemain.”
Jangan hanya melihat orang bekerja.
Kita harus bekerja.
Jangan hanya mengomentari program.
Kita harus membuat program.
Jangan hanya berbicara tentang keberhasilan.
Kita harus menciptakan keberhasilan.
Dan jangan menjadikan ASMEN hanya sebagai nama.
Jadikan ASMEN sebagai organisasi yang mempunyai fungsi, mempunyai karya, mempunyai legalitas, mempunyai jaringan, dan mempunyai manfaat nyata bagi masyarakat.
ASMEN harus menjadi pemain di lapangan, bukan penonton di pinggir lapangan.
Bekerja nyata, bergerak bersama, membangun jaringan, menjaga profesionalisme, dan memberikan manfaat.
ASMEN: Bukan Omon-Omon, tetapi Karya dan Pembuktian.
Pewarta_Herman.08
