AsMEN TV, Jakarta — Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali merefleksikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, ideologi bangsa, sekaligus pandangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi pengingat bahwa keberagaman Indonesia merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Persatuan, gotong royong, keadilan, serta penghormatan terhadap perbedaan menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam momentum tersebut, tim AsMEN TV didampingi Wakil Ketua Abdul Haris dan Sekjend Ari Kusuma Susilo menemui Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Forum Asistensi Media Nasional (AsMEN) DKI Jakarta, Kandidat Doktor H.Vathurrohman, S.E., M.M., di kantornya, Jalan Cisanggarung Raya No. 27, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Pria yang dikenal sebagai akademisi sekaligus pengusaha tersebut menyampaikan pandangannya mengenai makna Hari Kesaktian Pancasila. Menurutnya, peringatan tersebut tidak cukup hanya dilakukan secara seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Hidupkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kelima nilai dasar itu merupakan kesepakatan seluruh rakyat Indonesia, sebagai bangsa yang penuh keberagaman. Perbedaan bukan untuk diperdebatkan melainkan dirangkai menjadi sumber kekuatan besar untuk menjaga kedaulatan negara,” tegas Vathurrohman.
Ia menilai, nilai-nilai Pancasila harus terus dihidupkan di tengah dinamika kehidupan bangsa yang semakin kompleks. Menurutnya, kebebasan dalam kehidupan demokrasi harus tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab sebagai warga negara serta penghormatan terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Vathurrohman juga merefleksikan kondisi Pancasila pasca-Reformasi 1998. Ia berpandangan bahwa euforia kebebasan dan perubahan politik pada masa Reformasi turut memunculkan perdebatan mengenai posisi dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam pandangannya, perubahan konstitusi melalui amandemen UUD 1945 juga perlu terus dikaji secara kritis dengan melihat dampaknya terhadap kehidupan ketatanegaraan dan masyarakat Indonesia.
“Mari kita hidupkan Pancasila, dan kembali kepada UUD 1945 dengan melaksanakan secara murni dan konsekuensi. Karena negara kita adalah negara hukum,” tambahnya.
Menurut Vathurrohman, Pancasila memiliki nilai-nilai yang bersifat universal. Prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial, menurutnya, merupakan nilai yang dapat menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Karena itu, momentum Hari Kesaktian Pancasila hendaknya tidak berhenti pada upacara dan kegiatan seremonial. Peringatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran seluruh elemen bangsa agar nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan nyata.
“Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dihidupkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Imam Setiadi
